Dalam penjabajarannya, kausalitas merupakan prinsip hubungan sebab-akibat. Dalam menganalisa ilmu dan pengetahuan, kausalitas akan secara otomatis dapat diketahui, tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain. Bila dijabarkan, hubungan kausalitas ini dapat dilihat dari setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya. Hal tersebut merupakan akibat dari terjadinya berbagai hal lain, yang mendahuluinya. Dalam menganalisa kejadian, yang dikaitkan dengan kausalitas, adalah menganalisa segala sesuatu yang dapat diterima tanpa ragu, dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Dalam pernelitian ilmu pengetahuan, para ilmuwan harus dapat mencari titik awal sebab-akibat, atau hubungan kausalitas dari segala hal yang ditelitinya. Untuk itu, hubungan kausalitas dinamakan nometis, yaitu menjelaskan dari sesuatu yang bersifat umum, lalu diturunkan pada hal-hal yang bersifat khusus. Penurunan hasil analisa ini merupakan dampak dari sesuatu hal, yang memiliki sifat umum tersebut. Untuk itu, penelitan, yang diteliti menggunakan hukum kausalitas, akan bersifat permanen atau tetap, dan juga bersifat nyata. Tjuan utama penelitian ini adalah menguji sebuah hipotesis, yang telah diasumsikan pada awal penelitian.
Dalam ilmu social, hubungan kausalitas ini akan diuji terus-menerus kebenaranya, sehingga dapat bersifat permanen, dan tidak terbantahkan. Dalam ilmu social, hubungan kausalitas tidak dapat ditegakkan secara utuh, terlebih pada ilmu sejarah. Hal ini disebabkan, karena peneliti pada bidang tersebut, tidak dapat melihat langsung, tentang apa yang terjadi pada waktu pada masa tersebut, sehingga para serajawan akan mengkaitkan subjektivitas dalam setiap pembahasannya. Bila seorang peneliti telah mengkaitkan subjektivitasnya, maka akan menemukan kesulitan dalam penganalisaan. Seorang peneliti bidang social, terutama dalam bidang sejarah, harus mampu menurunkan fakta-fakta pendukung, yang didapat dari dokumen yang tersedia . Oleh karena itu, para penelliti pada bidang social, lebih tepatnya pada bidang sejarah, harus memberikan arugumentasi yang meyakinkan, dan harus menemukan titik awal dalam penelitiannya.
Untuk menentukan adanya sebab, sebagai titik awak suatu penelitian , yang menimbulkan suatu akibat, bukan suatu hal yang sepele. Hal ini disebabkan, karena para peneliti harus mengedepankan kompleksitas faktor-faktor yang berkaitan dengan peristiwa yang harus mereka hadapi. Dalam penelitian kausallitas, para peneliti harus dapat mencari dan menganalisa beberapa variable yang terdapat di depan mereka, karena untuk mendapatkan hubungan kausalitas, tidak dapat menggunakan hanya satu variable saja, karena penelitian mereka akan berifat absurd.
Dari buku Faenkel dan Wallen, yang ditulis pada tahun 2008, penelitian kausalitas ini terbagi atas dua tipe. Tipe pertama adalah penelitian kausal Komparatif, atau dikenal dengan hubungan korelasional. Pada tipe ini, peneliti akan melibatkan dua atau lebih kelompok dan satu variabel bebas, yang memiliki suatu hubungan korelasi. Dalam penelitian ini, biasanya akan digunakan statistic, sehingga dapat diketahui tingkat hubungan korelasi. Tipe yang kedua dinamakan Eksperimental. Dari buku yang ditulis oleh Sedarmayanti dan Syarifudin, pada tahun 2002, dapat dikatakan bawa, penellitian kausalitas ini, para peneliti akan mencari pengaruh variable tertentu terhadap variable lain, dengan mengadakan kontrok yang tepat.